Pepanthan
Greja Kristen Jawi Wetan Jemaat Lumajang sejak diresmikan menjadi pasamuwan / jemaat

pada tahun 1954 sampai 2003 pernah memiliki 7 buah pepanthan yang tersebar dibeberapa desa dan kecamatan di Kabupaten Lumajang, yaitu Pepantan Bades, Pepanthan Jatiroto, Pepanthan Sumberwuluh, Pepanthan Klakah, Pepanthan Randuagung, Pepanthan Dampar dan Pepanthan Pandanwangi. Kini pepanthannya tinggal 3 buah. Pasang surutnya dikarenakan berbagai faktor, sehingga mempengaruhi kelestariannya. Berikut riwayat pertumbuhannya masing-masing pepanthan.
Pepanthan Bades
Bades sebuah desa yang terletak di Kecamatan Pasirian jaraknya sekitar 23 km dari Jemaat Lumajang ke arah selatan. Tumbuhnya Pepanthan Kristen di Bades terlebih dahulu ada daripada Jemaat Lumajang yang dibimbing oleh Jemaat GKJW Tunjungrejo. Pepanthan Bades bergabung dengan GKJW Jemaat Lumajang sekitar tahun 1955 setelah Jemaat Lumajang menjadi dewasa dan memiliki pendeta baku. Pepanthan Bades Wilayah persekutuannya menjangkau Desa Jarit, Desa Pasirian dan Desa Condro.
Riwayat persekutuan Kristen di Desa Bades bermula dari benih 2 orang yang mengaku percaya kepada Injil, yaitu Sumali Prawiro Sudirjo dan Sarti Dullah yang dibaptis dan diberkati pernikahannya di Jemaat Tunjungrejo pada tanggal 4 Juni 1933. Kemudian benih sejoli ini tumbuh dan berkembang sampai melahirkan orang percaya baru di antaranya: Sarmun, Kasti, Saunah, Ny. Herman dan lain-lainnya yang dibaptis di Desa Bades pada tahun 1935. Pada tahun berikutnya, tepatnya tanggal 27 Maret 1936 menyusul 2 orang dewasa dan 1 anak juga dibaptis di Desa Bades, mereka adalah: Salam, Munti, dan Bawuk Anarikah Sumali Prawira Sudirjo. Karena perkembangannya semakin banyak orang yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka warga Marenca ini oleh Jemaat Tunjungrejo dijadikan salah satu pepanthannya. Tanggal berdiri Pepanthan Bades, oleh tua-tua warga Bades diangkat dari tanggal baptisan Bawuk Anarikah putri pertama penatua Sumali Prawiro Sudirjo, yaitu tanggal 27 Maret 1936.
Menurut cerita tua-tua Pepanthan Bades, sekitar tahun 1941 Pekabaran Injil Jemaat Probolinggo pernah mengadakan kunjungan ke Pepanthan Bades yang dipimpin oleh Pdt. K. de Graaf. Mereka terheran-heran menyaksikan bahwa di kawasan ini tumbuh kembang orang-orang yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus. Saat itu pertumbuhan warga Bades yang tercatat dalam Buku Stambuk Gereja Pepanthan Bades sekitar 21 orang lebih, dalam kurun waktu 5 tahun.
Tahun 1942 Jemaat Tunjungrejo mengalami pergantian gembala sidang, dari Pdt.. Sriadi kepada Pdt.Tartip Iprayim, demikian pula Pekabaran Injil di Bades dilanjutkan oleh Pdt. Tartip Iprayim.
Pdt. Tartip Iprayim terkenal seorang Pekabar Injil yang ulet, tangguh, andal, dan pandai memilih metode yang digunakan pada saatnya. Ini dibuktikan saat beliau terpilih menjadi utusan Injil ke Bali tahun 1933 bersama Pdt. Darmoadi dan dibantu Wayan Sandya, Ketut Sinara dan Salam Watiyas seorang kolportir (pengedar buku), berhasil membaptis orang-orang di Bubunan Bali Utara sekitar 32 orang dewasa dan anak-anak 20 dalam tempo 10 bulan. Di Bades, metode yang digunakan oleh hamba Tuhan ini cukup unik yaitu menggunakan sarana kejawen “Dongo Rama Kawula” dan “Sahadhat Kalih Welas” / Pengaken Pitados” (Doa Bapa Kami dan Pengakuan Iman Rasuli) dijadikan suatu “mantra” kesembuhan, dan dibarengi pula dengan metode "memitran”.
Mendengar berita kesukaan yang disampaikan oleh Pdt. Tartip Iprayim melalui PI-nya benar-benar membuat mereka percaya diri bahwa Yesus adalah juru selamat dunia, dan akhirnya mereka terbuka hatinya untuk menerima Injil dan dibaptis. Kendatipun secara iman mereka sudah menyatu dengan Kristus, namun nilai atau sifat kajawen dan keislaman masih terasakan (sinkretisme ?). Tidak mustahil hal ini terjadi kerena kekristenannya masuk pada wadah yang sudah berisi “kajawen dan keislaman”, sehingga memerlukan kesabaran untuk mengubah dan membuang ? Hal ini masih menjadi pergumulan tersendiri bagi warga Bades, antara penghayatan iman dan budaya. Antara keduanya, terdapat ruang yang masih terbuka menuju dialog iman dan budaya melalui pembinaan teologi.
Pertumbuhan Pepanthan Bades semakin pesat dan berkembang yang dibuktikan bahwa mulai tanggal 13 April 1958 peribadatan hari Minggu serta kegiatan gereja yang lain tidak lagi bertempat di rumah mbah Sumali dan rumah-rumah warga, tetapi sudah menempati rumah ibadah yang dibangun secara gotong-royong oleh 5 orang pendiri yaitu, Sumali Prawiro Sudirjo, Yusup Bisono, Salam, Masiran dan Swep Adisuwiryo.
Tanah yang dibangun untuk gereja persembahan dari penatua Yusup Bisono yang luasnya 1050 m2, dan tanah makam yang letaknya bersebelahan dengan gedung gereja yang luasnya 1094 m2 persembahan dari penatua Sumali Prawiro Sudirjo. Dua bidang tanah tersebut kini sudah bersertifikat milik Greja Kristen Jawi Wetan.
Sewaktu ada tamu mitra GKJW dari luar negeri yang berkunjung ke Majelis Agung pada tahun 2000 yaitu dari MEADOWS Amerika Serikat yang oleh Ketua Majelis Agung Pdt. Prof. Sri Wismoady Wahono Ph.D (alm.).diajak menikmati panorama Gunung Semeru dari Desa Gunung Sawur, dan sepulangnya singgah di Pepanthan Bades yang disambut penuh kasih persaudaraan oleh warga Bades. Usai berbincang-bincang masalah gerejawi dengan warga Bades, mitra GKJW dari MEADOWS Amerika Serikat (Tom Bennet) memberi sumbangan berupa uang sejumlah 2 juta rupiah untuk kepentingan Pepanthan Bades dan Pepanthan Dampar masing-masing 1 juta rupiah. Kemudian oleh Pepanthan Bades uang tersebuat digunakan untuk pemasangan Pipa Air Minum dan perbaikan WC serta Kamar Mandi.
Sejak berdirinya tahun 1936 sampai tahun 2002 (66), Pepanthan Bades belum ada keinginan mencalonkan sebagai calon jemaat karena diselimuti oleh beberapa faktor yang menyebabkan kebimbangan, yaitu faktor: Jumlah warga, ekonomi jemaat dan faktor-faktor lain yang selalu menghantui alam pikiran mereka.
Maka untuk memberi dorongan semangat gerejawi di Pepanthan Bades mulai bulan Januari 2002 sampai bulan September GKJW Jemaat Lumajang menempatkan vikaris Fajar Wicaksono, dan pada bulan September 2002 sampai bulan Maret 2003 menempatkan vikaris Yonet Soedarmoko, S.Si. Keberadaan 2 vikariat di Bades selama 13 bulan dapat mengubah pola pikir Jemaah Bades dan memberi dorongan semangat baru dan roh baru, bahwa mulai tahun 2003 jemaah Bades berhasrat menggapai cita-cita menjadi jemaat dewasa.
Tidak dapat dipungkiri, setelah ada layanan 2 vikariat keadaan ekonomi Pepanthan Bades sungguh meningkat tajam, ditambah Pepanthan Dampar dan Kelompok Sumberwuluh sepakat nyawiji apabila Pepanthan Bades sewaktu-waktu menjadi jemaat dewasa yang mandiri. Dengan demikian Pepanthan Bades mulai awal tahun 2003 telah menyiapkan diri sebagai calon jemaat.
Sisi lain yang mendorong semangat pendewasaan Pepanthan Bades adanya studi banding para majelisnya ke GKJW Jemaat Argosari pada tanggal 24 November 2002 yang kemudian dapat merubah sikap para warga dan penatuanya untuk mengikuti jejak warga Argosari yang lebih dahulu menjadi jemaat dewasa, sedangkan situasi dan kondisi gerejawinya tidak jauh berbeda. Malah ditinjau dari ekonomi warga dan pendidikan, Pepanthan Bades lebih unggul daipada Jemaat Argosari. Namun mengapa Argosari lebih cepat menjadi jemaat? Hal ini disebabkan adanya kekompakkan kang nyawiji antara warga dan penatua di Argosari yang belum dimiliki oleh warga Bades. Belajar dari perbedaan tadi, kini warga Pepanthan Bades bangkit percaya untuk menjadi jemaat dewasa yang dibarengi pula dengan membangun pastori.
Untuk memantapkan perkembngan Pepanthan Bades lebih lanjut, pada tanggal 1 Juli 2003 Jemaat Lumajang menempatkan lagi vikaris Nugroho Wasono sampai tanggal 13 Januari 2004. Warganya 31 KK 95 jiwa.
Pepanthan Jatiroto
Tidaklah berlebihan bila Pepanthan Jatiroto menjadi topik penulisan sejarah GKJW Jemaat Lumajang karena ada kisah tersendiri yang terkait, bahwa mulai tahun 1955 sampai 1967 Pepanthan Jatiroto pernah dibimbing oleh Jemaat Lumajang sampai menjadi jemaat dewasa.
Dapat dikisahkan kembali bahwa keberadaan orang-orang Kristen di Jatiroto bermula dari berdirinya Pabrik Gula Jatiroto sekitar tahun 1906. Kemudian pada tahun 1935 berdatangan orang-orang Kristen dari beberapa pelosok desa dan kota untuk mengadu nasib mencari nafkah sebagai karyawan di Pabrik Gula maupun di Rumah Sakit Jatiroto antara lain adalah: Kalep Tosari, Sumoharjo dan M. Reno. Setelah itu 3 orang perintis ini menghimpun warga Kristen untuk diajak beribadah, memuji dan memuliakan nama Tuhan di rumah mereka secara bergantian. Kegiatan yang semula hanya berbentuk kelompok kemudian sekitar 1940 ditingkatkan menjadi pepanthan yang dilayani Jemaat Tunjungrejo. Karena jarak antara Tunjungrejo dengan Jatiroto cukup jauh, para penatua pepanthan sepakat mengangkat tua-tua Mangun menjadi Guru Injilnya.
Setelah kedudukan Pepanthan Lumajang menjadi Jemaat Dewasa pada tahun 1954, dan pada tahun 1955 mempunyai gembala sidang jemaat tetap, Pepanthan Jatiroto meminta agar Jemaat Lumajang berkenan membimbing dan melayani. Maka mulai tahun 1955 Pepanthan Jatiroto dilayani Pdt. Prawata Dana sampai 1960. Karena kepindahannya ke Jemaat Sidorejo, tugas pelayanannya dilanjutkan Pdt Pinoedjo sampai status Pepanthan Jatiroto menjadi Jemaat Dewasa pada tanggal 7 Juli 1967.
Jemaat Jatiroto memiliki gedung gereja sendiri dengan ukuran 5 kali 10 meter, yang perletakan batu pertama dilakukan oleh Pdt. Markus Kaiden (alm.) pada tahun 1971, dan peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 1972. Gembala sidang Jemaat Lumajang yang pernah konsulen di Jemaat Jatiroto adalah Pdt R. Setyoharadjo dan Pdt Soegiri Sahijoes.
Pepanthan Sumberwuluh
Sumberwuluh suatu desa yang terletak di kaki Gunung Semeru wilayah Kecamatam Candipuro. Hawa yang sejuk senantiasa dapat dirasakan di desa ini. Jarak antara Lumajang ke Sumberwuluh cukup jauh sekitar 32 km ke arah selatan. Desa Sumberwuluh dan sekitarnya merupakan kawasan yang sering dilanda banjir dari letusan Gunung Semeru.
Tumbuhnya persekutuan di kawasan ini bermula dari kedatangan keluarga Kasuprih dari Sitiarjo pada tahun 1948 yang bekerja sebagai Mantri Kesehatan di Kecamatan Candipuro. Pada tahun 1957 menyusul beberapa orang Kristen dari Tunjungrejo yang sengaja didatangkan oleh Kasuprih sebanyak 9 kepala keluarga sebagai pekerja di kebun dan ladang, yang akhirnya mereka menetap di Desa Sumberwuluh beserta keluarganya.
Pada tahun 1957 mereka sepakat mendirikan kelompok Kristen GKJW di Sumberwuluh kang nyawiji dengan GKJW Jemaat Lumajang. Warga dengan kata sepakat menunjuk Kasuprih sebagai ketuanya dan Sukiyanto sebagai wakilnya. Saat itu warganya berjumlah 14 kepala keluarga. Peribadatnya setiap Minggu menempati rumah Kasuprih di Desa Sumberwuluh. Dalam waktu tidak lama, rumah yang ditempati untuk ibadah beserta tanahnya dihibahkan kepada Jemaat GKJW Jemaat Lumajang pada tahun 1957 tanpa disertai pernyataan tertulis. Saat itu gembala sidang Jemaat Lumajang Pdt Peawata Dana. Sebelum semua terjadi di kawasan ini, menurut cerita Pdt. Prawata Dana, Pdt. Tartip Iprayim pernah juga mengadakan PI di Desa Sumberwuluh dan sekitarnya.
Dua puluh tahun kemudian (1977) Pepanthan Sumberwuluh mengalami kekosongan ibadah karena warganya mengikuti tranmigrasi ke Donggala akibat korban banjir bandang dari letusan Gunung Semeru yang menyapu bersih Desa Kebon Deli pada tahun 1976. Kepindahannya keluar Jawa ditangani Badan Diakoni Majelis Agung yang diberangkatkan pada tanggal 17 November 1977 sebanyak 50 kepala keluarga asal dari Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo. Usaha Badan Diakoni ini tidak terbatas kepada orang-orang Kristen sendiri melainkan juga terhadap masyarakat umum tanpa memandang agama yang dipeluknya. Setelah itu, warga Kristen di Sumberwuluh tinggal 3 kepala keluarga, yakni keluarga mbah Kacung (Loso), Suryadi dan Saptono, sehingga kegiatan ibadah bagi yang tertinggal secara pribadi menggabung ke Pepanthan Oro-Oro Amba wilayah Jemaat Pronojiwo.
Karena situasinya terus-menerus demikian, ada keinginan warga dari Desa Candipuro, yaitu tua-tua Kamiran dan Duladi untuk menjual rumah ibadah Sumberwuluh yang akan dibelikan di Desa Candipuro dengan tujuan agar kegiatan ibadah berada di kota kecamatan. Akhirnya maksud baik ini kesampaian juga, lalu hasil penjualan tanah dibelikan lagi di Desa Candipuro dengan menambah uang pribadinya karena harganya lebih mahal daripada hasil penjualan.. Kemudian di atas tanah tersebut didirikan bangunan rumah ibadah yang permanen oleh tua-tua Kamiran dengan biaya ditanggung dari kantongnya sendiri. Namun rencana dan harapan yang baik itu kandas di tengah jalan, begitu bangunan mencapai setinggi 1 meter muncul protes dari masyarakat sekitarnya, sehingga pembangunan terhenti total.
Oleh karena tahun 1982 tua-tua Kamiran meninggal dunia dan kemungkinan besar bangunan tersebut tidak bisa dilanjutkan, maka atas kesepakatan bersama 3 orang warga Sumberwuluh, yaitu mbah Kacung, Suwito, Saptono dan dibantu oleh Imam Supingi, akhirnya tanah yang berada di Desa Candipuro dijual, lalu dibelikan lagi di Dukuh Kamarkajang Desa Sumberwuluh seluas 750 m2. Namun sampai sekarang belum ada rencana untuk membangun rumah ibadah karena terbentur dana dan sulit mendapatkan surat IMB dari pemerintah setempat. Dalam keadaan yang menyedihkan dan penuh keprihatinan karena tiadanya tempat ibadah yang tetap bagi warga Kristen Sumberwuluh, keluarga mbah Kacung terketuk hatinya menyediakan rumah tinggalnya untuk tempat ibadah, dengan harapan agar suasana peribadatan di Sunberwuluh tumbuh kembali seperti sedia kala. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1981, sehingga mulai saat itu peribadatan di Sumberwuluh normal kembali, dengan jumlah warga 8 kepala keluarga. Kini 2 bidang tanah yang dibeli di Kamarkajang dan hibah dari mbah Kacung sudah bersertifikat atas nama Greja Kristen Jawi Wetan.
Waktu terus berjalan, warga Sumberwuluh tidak menyangka kalau pada hari Senin tanggal 21 Agustus 2000 dikagetkan oleh sebuah ultimatum dari masyarakat setempat lewat perangkat Desa Sumberwuluh atas perintah Camat Candipuro, agar warga Kristen Sumberwuluh jangan lagi menempati rumah mbah Kacung untuk peribadatan. Gara-gara pertama mungkin ada kesalahwahaman dengan adanya tumpukan pasir dan semen merah di muka rumah ibadah dikira untuk membangun rumah gereja? Kemungkinan kedua, saat itu mereka sedang memugar musola menjadi mesjid yang jaraknya sekitar 100 meter dari peribadatan warga Kristen. Menurut pandangan mereka bahwa keberadaan rumah ibadah dekat mesjid kurang etis. Padahal menurut kenyataan sejarah, sebelum musola ada, rumah ibadah umat Kristen sudah ada terlebih dahulu di kawasan itu. Kemudian mereka menyusul membangun musola di dekat gereja, namun sepanjang itu 2 umat yang berdampingan tempat dapat menjalankan ibadahnya dengan damai tanpa ada masalah. Namun setelah nereka membangun mesjid terjadi gejolak semacam itu. Padahal negara secara hukum menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaanya (UUD 1945 Bab XI Pasal 29 Ayat 2). Oleh karena permasalahannya ora ana kabul wusanane (tak ada penyelesaian), terutama dari pemerintah setempat maupun DPRD Kabupaten Lumajang yang enggan menindaklanjuti, maka terpaksa dengan beban moral yang berat, peribadatan warga Sumberwuluh setiap hari Minggu selama 3 bulan bertempat di rumah warga secara bergantian sesuai dengan perintah Camat Candipuro.
Mulai 22 Desembr 2000, PHMJ Jemaat Lumajang menetapkan bahwa peribadatan warga Pepanthan Sumberwuluh untuk sementara waktu dialihkan ke rumah tua-tua Imam Supingi di Dukuh Kamarkajang dan sebagai koordinatornya ditunjuk Imam Supingi.
Oleh karena warganya surut kurang dari 10 kepala keluarga, mulai tanggal 31 Oktober 2003 kedudukannya sebagai pepanthan diubah menjadi kelompok. Warganya 11 KK 46 jiwa.
Pepanthan Klakah
Tumbuh kembangnya Pepanthan Klakah bermula dari bertemunya kembali 2 orang kawan seiman Saptowibowo (Kepala Kantor Pos Klakah) dengan Dugel Sukardi karyawan Perusahaan Jawatan Kereta Api Stasiun Klakah pada tahun 1957. Semula dua-duanya bertetangga dekat di Desa Kesamben Blitar. Pada tahun 1950 Saptowibowo dimutasi ke Surabaya, sedangkan Dugel Sukardi pada tahun 1953 pindah tugas ke Klakah.
Selang beberapa bulan bertemu, kedua hamba Tuhan ini merencanakan mendirikan Kelompok Kristen GKJW di Klakah dengan alasan apabila melakukan ibadah ke Jemaat Lumajang jaraknya terlalu jauh, yaitu sekitar 17 km dan pada waktu itu sarana transportasi belum seramai sekarang. Kemudian rencana dan gagasan tersebut dilaksanakan dengan mengundang beberapa orang kawan yang berdomisili di Klakah di antaranya: Mangku Darmo asal Sitiarjo, Pamuji asal Sidorejo, Hariadi asal Paniwen. Pertemuan tersebut membuahkan kesepakatan bersama bahwa pada tahun 1957 telah terbentuk Kelompok Kristen GKJW Klakah yang diketuai oleh Mangku Darmo. Peribadatannya setiap hari Minggu bertempat di rumah Saptowibowo (rumah dinas Kantor Pos) dan sebagai pelayan ibadah ditunjuk Saptowibowo dan D. Sukardi dan setiap bulan dilayani oleh gembala sidang jemaat dari GKJW Lumajang.
Setelah berjalan 3 tahun menjadi kelompok, dan jumlah warga makin meningkat, mereka berharap kepada Jemaat Lumajang agar statusnya ditingkatkan menjadi pepanthan. Keinginan tersebut dipenuhi oleh Jemaat Lumajang dan peresmiannya dilakukan di rumah Saptowibowo pada tahun 1961 dalam ibadah Minggu oleh Pdt. Pinoedjo.
Pepanthan Klakah sudah mempunyai tanah seluas 810 meter persegi buah persembahan dari Yon Mulyono warga Pepanthan Klakah, mantan Kepala Perhutani Klakah. Walaupun demikian, Pepanthan Klakah belum dapat mendirikan rumah ibadah yang permanen karena untuk mendapatkan surat izin mendirikan bangunan (IMB) mengalami kesulitan. Rumah warga yang ajeg ditempati untuk ibadah Minggu selama 33 tahun, antara lain rumah Saptowibowo (rumah dinas Kantor Pos) dari tahun 1957 sampai beliau pensiun pada tahun 1967. Selanjutnya pindah ke rumah D.Sukardi (rumah dinas PJKA) dari tahun 1957 – 1987. Kemudian pada tahun 1987 pindah ke rumah warga Slindah sampai tahun 1995. Bekenaan warga Slindah pensiun dan pindah ke Lumajang, peribadatan mereka kembali menempati rumah penatua D. Sukardi sampai beliau meninggal dunia. Setelah itu, mulai awal tahun 2001 peribadatan hari Minggu bagi warga Pepanthan Klakah dilakukan di rumah warga secara bergantian. Kini warganya 11 KK 26 jiwa.
Pepanthan Randuagung
Keberadaan warga Kristen di Randuagung bermula dari beberapa orang Kristen yang sudah lama menetap di wilayah Kecamata Randuagung, karena rohani mereka lama tidak ada yang memelihara, sehingga menjadi orang Kristen yang pasif. Kehadiran Asmowinangun sebagai Mantri Kesehatan di Randuagung pada tahun 1965, kehidupan rohani mulai terhimpun kembali. Pada awalnya terjaring 3 keluarga, dan berikutnya ditemukan lagi 9 keluarga. Kemudian kawanan domba ini oleh penatua Asmowinangun setiap hari Minggu diajak beribadah di rumahnya untuk memuji nama Tuhan Allah sembari berdoa. Berhimpunnya persekutuan ini terjadi pada tahun 1967 dipimpin oleh penatua Asmowinangun dan dibantu tua-tua Jatisworo berasal dari Sitiarjo.
Pertumbuhan warga selama 3 tahun cukup baik, sehingga pada tanggal 1 November 1970 ada 8 orang yang mengaku percaya pada Injil dan dibaptis suci di Randuagung oleh Pdt. R. Setyoharjo. Usai baptisan kelompok ini dinyatakan menjadi pepanthan oleh Pdt. R.Setyoharjo selaku ketua PPMP GKJW Jemaat Lumajang.
Saat Jemaat Lumajang mengalami perselisihan internal tahun 1971, pepanthan ini tanpa melalui prosedur resmi dari Jemaat Lumajang, mulai 1 Januari 1972 bertepatan ibadah Tahun Baru langsung bergabung dengan GKJW Jemaat Jatiroto dengan maksud agar pembinaannya lebih dekat daripada dilayani Jemaat Lumajang. Perkembangan Pepanthan Randuagung pada tahun 1977 semakin maju, dengan adanya pelayanan anak-anak Sekolah Minggu mulai ada pamongnya, yaitu Ny. Agus Sulastri seorang guru SD menantu Pdt. R. Setyohardjo yang sekarang berdomisili di Tunjungrejo.
Dari waktu ke waktu, yaitu tahun 1980 Pepanthan Randuagung tampak surut akibat warganya banyak yang lanjut usia dan ada juga yang terpanggil Tuhan ke rumah Bapa di surga. Sehingga kehidupan persekutuan Pepanthan Randuagung mengalami kemerosotan tajam. Lebih-lebih dengan kepindahan penatua Asmowinangun ke Lumajang pada tahun 1983, menyebabkan warga Pepanthan Randuagung sangat meprihatinkan dan warganya tidak aktif lagi dalam kegiatan gerejawi. Mungkin hal ini bisa juga dikarenakan kurang pelayanan yang intensif dari penatua setempat, sehingga pamor Pepanthan Randuagung tidak tampak lagi. Kemudian diketahui sudah ada sejumlah warga yang menyeberang ke gereja Pentakota dan ada juga yang masih aktif beribadah ke GKJW Jemaat Jatiroto.
Demikianlah sekelumit tumbuh kembang Pepanthan Randuagung yang pernah ikut mengukir sejarah GKJW Jemaat Lumajang selama 16 tahun.
Pepanthan Dampar
Bermula berdirinya Pepanthan Dampar dari beberapa orang Kristen asal Tempursari yang babat hutan pada bulan juli 1962 di Dukuh Kaligede dan Dukuh Tlepuk Desa Gondorso Kecamatan Pasirian. Dua kelompok pembabat hutan ini ada pemimpinnya sendiri-sendiri, di Kaligede dipimpin oleh Saimo dan di Tlepuk dipimpin oleh Subandi. Setelah babat hutan di Dukuh Kaligede dan Tlepuk selesai sekitar tahun 1963-1964, mereka mulai mendirikan pemukiman masing-masing. Kelompok yang berada di Kaligede dibina oleh Sriwoko alias Pak Wendo dan Pramudi, dan yang berada di Tlepuk pembinanya Sarwi dan Saptoyo. Dua pedukuan ini jaraknya berdekatan sekitar 2 km, sehingga hubungan persekutuan dua arah dapat terjangkau dengan cepat dan ditopang pula oleh alam ciptan-Nya yang indah.
Bagi warga Kristen yang berada di pemukiman Kaligede nasibnya kurang beruntung, karena pada tahun 1965 oleh Perhutani diperintahkan meninggalkan pemukiman Kaligede yang baru ditempati kurang lebih 1 tahun. Oleh karena mereka merasa takut dengan berbagai isu yang tidak berkenan dengan hatinya, kemudian mereka meninggalkan Dukuh Kaligede pada tahun itu juga, sebagian ada yang pulang ke Tempursari dan yang lain mengungsi ke Tlepuk di rumah sanak Saudaranya.
Waktu terus berjalan, keadaan warga di Dukuh Tlepuk makin mapan, tenang dan penuh sukacita bagi semua orang yang percaya kepada-Nya, bahwa pada tanggal 8 Februari 1970 di Dukuh Tlepuk dilayani baptisan suci sebanyak 31 orang oleh Pdt. R. Setyohardjo bertempat di gereja Tlepuk yang dibuat dari bambu beratap kajang. Mereka yang dibaptis sebagian besar adalah orang-orang yang dahulu ikut babat hutan pada tahun 1962 yang pada waktu itu mereka belum percaya kepada-Nya, akhirnya menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya. Kejadian ini merupakan tanda tumbuh kembangnya kawanan domba Kristus di Dukuh Tlepuk.
Setelah menetap di Tlepuk selama 10 tahun yaitu tahun 1972, mereka mengalami nasib yang sama seperti Saudara-saudaranya seiman di Kaligede tahun 1965, yang diperintahkan oleh Kantor Perhutani Wilayah Pasirian agar mereka meninggalkan pemukiman Tlepuk, pindah ke Dukuh Dampar yang tanahnya sudah disediakan oleh Perhutani atas kerja sama dengan Perkebunan Kajaran.
Secarah sah, tanah dipedukuan Kaligede dan di Tlepuk adalah milik Departemen Perhutani yang sebenarnya tidak boleh dijadikan pemukiman penduduk. Jarak antara Tlepuk ke Dukuh Dampar sekitar 5 km. Sesudah mereka membangun rumah untuk berteduh selesai, mereka berduyun-duyun pindah dan bermukim di tempat yang baru yang kemudian jejaknya diikuti oleh Saudara-saudaranya yang dahulu pulang ke Tempursari dari Dukuh Kaligede, termasuk penatua Pramudi yang sekarang menjadi penatua di Pepanthan Dampar. Setelah mereka menetap di Dampar selama 2 tahun, yakni tahun 1974, mereka dibangunkan rumah ibadah kecil mungil yang dibuat dari gedeg / bambu oleh Kantor Perhutani Pasirian yang bekerja sama dengan warga Dampar. Sesudah mereka memiliki rumah ibadah walaupun sangat sederhana, kemudian kedudukan Kelompok Dampar mulai tahun 1974 ditingkatkan menjadi pepanthan yang diasuh oleh GKJW Jemaat Lumajang, sedangkan tua-tuanya ditunjuk Sarwi dan Saptoyo sebagai pembinanya.
Pedukuhan Dampar wilayahnya masuk Desa Bades yang jarak lebih kurang 11 km dari Desa Bades. Alamnya dikelilingi perbukitan yang membujur dari Barat, Utara sampai Timur, sedangkan sebelah Selatan dibatasi Laut Selatan atau Samodera Indonesia. Jauhnya dari Jemaat Induk sekitar 34 km ke arah selatan dengan medan yang sulit ditempuh. Di samping jalannya berliku-liku harus menyeberangi sungai Rejali yang cukup lebar dan setelah itu masih naik turun bukit. Pada tahun 2001 Pemerintah Kabupaten Lumajang membuat jalan pintas Pasirian – Tempursari, sehingga membantu transportasi antarLumajang dengan Dukuh Dampar dengan kondisi jalan jauh lebih nyaman, peresmiannya dilakukan tahun 2003 oleh Bupati Lumajang.
Tahun 1900 rumah ibadah Dampar mengalami rusak berat dan harus dipugar, pemugaran dilakukan dengan konstruksi permanen oleh keluarga Tonny Sundowo WH direktur Cv Rajek Wesi warga gereja Jemaat Lumajang sebagai ucapan syukur atas berkat yang diterima-Nya. Setelah pemugaran rumah gereja Dampar selesai, warga Dampar merasa gembira dan penuh sukacita serta tidak lupa mengucap syukur kepada-Nya karena di samping memiliki rumah gereja kecil mungil namun permanen, kemudian kehidupan rohani mereka semakin tampak, maju, sejuk dan damai. Demikian pula kerja sama antarumat makin tampak terasa dan nyata.
Saat ada tamu mitra GKJW dari MEADOWS Amerika Serikat yang berkunjung ke Pepanthan Bades memberi bantuan uang 1 Juta rupiah untuk Pepanthan Dampar yang kemudian disalurkan membuat toilet.
Dinamika yang menarik dan unik dari warga Dampar, adalah ketika warga mencapai jumlah cukup besar, kemudian sebagian warga mengikuti program transmigrasi yang berakibat jumlah warga berkurang. Namun dalam jangka .waktu yang tidak terlalu lama jumlah warga bertambah kembali karena adanya pendatang baru, begitu seterusnya. Pada akhir tahun 2004 warganya berjumlah lebih kurang 20 KK 68 jiwa.
Pepanthan Pandanwangi
Tumbuhnya Pepanthan GKJW di Desa Pandanwangi berawal dari adanya Proyek Pemukiman (Yekkim) TNI AU di Pandanwangi yang dibangun pada tahun 1976. Petugas pelaksana Harian (Pelakhar) adalah Yan Salikin warga GKJW, mempunyai pemikiran ke depan bahwa di Yekkim nanti akan berdatangan warga TNI AU yang beragama Kristen. Maka sebagai Pelakhar mengajukan permohonan kepada Pangkodau IV agar umat Kristen di Yekkim Pandanwangi dibangunkan gereja untuk peribadatan mereka. Permohonan tersebut didukung oleh warga AURI lainnya, di antaranya Ismail Hamid dan Maria Magdalena S. Upaya tersebut oleh Pangkodau IV disetuji dan kemudian dibangunkan sebuah gereja permanen di atas tanah seluas 1850 m2. Ismail Hamid selaku umat muslim mantan prajurit TNI AURI mempunyai andil cukup besar dalam upaya membangun gedung gereja di Proyek Pemukiman TNI AURI Pandanwangi.
Pada bulan Desember 1977 semua bangunan pemukiman telah rampung termasuk bangunan gedung gereja. Khusus bangunan gedung gereja, berdasarkan surat Panglima Komando Daerah Udara IV No. Kadau IV/017/9/6/Pers-62 tertanggal 29 Desember 1977, pelayanan ibadah dan pemeliharaannya diserahkan kepada Majelis Jemaat GPIB Pancaran Kasih Lumajang. Kemudian pemakaiannya gedung gereja ini ditahbiskan pada tanggal 2 Februari 1978 dengan mendatangkan Pendeta Simahu dari Sinode GPIB Jakarta atas prakarsa Pdt. Simatupang dari GPIB Lumajang yang dihadiri oleh unsur-unsur gereja lain yang ada di kawasan Yekkim Pandanwangi termasuk warga GKJW yang baru di Pandanwangi dan hadir pula ketua Majelis Jemaat Lumajang. Bersamaan pentahbisan gedung gereja tanggal 2 Februari 1978, Pepanthan GKJW Pandanwangi dinyatakan berdiri oleh Pdt. Soegiri Sahijoes selaku ketua PHMJ GKJW Lumajang, dan tua-tuanya ditunjuk Yan Salikin dan dibantu Ny. Maria Magdalena Salikin.
Setelah persekutuan kristiani di Yekkim Pandanwangi berjalan 4 tahun dan perkembangan umat setiap unsur semakin maju, atas pertimbangan Pangkodau IV status gereja diadakan perubahan berdasarkan surat Pangkodau No.B/060-20/8/2/Bintal tertanggal 3 April 1982 dan Surat Keputusan No. Skep /06/IV/1982 tertanggal 30 April 1982 yang menetapkan bahwa ketentuan penggunaan dan pemeliharaannya terhitung mulai tanggal 1 April 1982 diserahkan kepada Pelakhar (Pelaksana Harian). Sehingga keberadaan gereja di permukiman TNI AURI Pandanwangi tidak lagi dibebankan kepada Jemaat GPIB Pancaran Kasih. Mulai saat itu keberadaan gereja berubah menjadi “Gereja Oikumene”. Namun anehnya masing-masing unsur persekutuan melakukan ibadah sendiri-sendiri yang waktunya diatur oleh Pelakhar Yekkim Pandanwangi.
Setelah 19 tahun menjadi pepanthan (1978-1997), keberadaan warga GKJW di Yekkim Pandanwangi mulai surut karena faktor usia dan banyak yang pulang kembali ke tempat asalnya, sehingga warga GKJW tinggal 7 kepala keluarga (KK). Maka pada sidang PHMJ GKJW Lumajang akhir daur 1995-1997 status Pepanthan Pandanwangi diubah menjadi “Kelompok” yang berlaku mulai awal tahun 1998.
Secara teratur ibadah hari Minggu di Yekkim Pandanwangi selalu mendapat pelayanan dari Jemaat Lumajang. Warganya 5 KK 7 jiwa.
Kelompok dan Warga Marenca
Yang dimaksud kelompok dalam wadah GKJW adalah kumpulan orang-orang Kristen GKJW disuatu tempat tertentu yang jauh dari Jemaat Induk yang jumlahnya lebih kecil daripada pepanthan.
Mulai 31 Oktober 2003 atas keputusan PHMJ GKJW Jemaat Lumajang kelompoknya menjadi 3 kelompok, yaitu Kelompok Kertowono, Kelompok Pandanwangi dan Kelompok Sumberwuluh. Berikut riwayatnya masing-masing kelompok termasuk Kelompok Penanggal yang pernah tumbuh di lingkup GKJW Jemaat Lumajang pada tahun 1964- 1977. Sedangkan Riwayat Kelompok Sumberwuluh dan Kelompok Pandanwangi terhimpun pada saat masih menjadi pepanthan.
Kelompok Penanggal
Penanggal sebuah desa yang letaknya sekitar 35 km dari Jemaat Lumajang. Pada tahun 1964 sudah ada beberapa orang Kristen bertempat tinggal di desa ini, di antaranya Simin Karsa Nawi dan Suwito. Kemudian warga marenca ini tumbuh dan berkembang yang dibina oleh Jemaat Lumajang dan pimpinannya dipercayakakan kepada tua-tua Simin Karsa Nawi. Setiap bulan, ibadah mereka dilayani Pdt. Pinoedjo selaku gembala sidang Jemaat Lumajang, bersamaan waktu dengan pelayanan di Pepanthan Sumberwuluh.
Pada tanggal 26 Mei 1968 diadakan baptisan suci bertempat di Desa Penanggal yang jumlahnya sekitar 18 orang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa berasal dari Candipuro, Sumberwuluh, Kajarkuning dan dari Desa Penanggal sendiri bertempat di rumah penatua Maligi, yang dilayani oleh Pdt. Pinoedjo. Dari jumlah tersebut yang sebagian besar dari orang-orang yang baru percaya kepada Injil berasal dari Candipuro. Ini merupakan pertumbuhan awal yang baik bagi kehidupan kelompok Kristen di Desa Penanggal. Hal ini menarik perhatian Pdt Pinoedjo, sehingga pada waktu itu beliau ada niat menjadikan Kelompok Penanggal sebagai basis Kristen pedesaan di wilayah GKJW Jemaat Lumajang, bertujuan untuk mengenang kembali riwayat GKJW perkotaan yang asal mulanya dari desa masuk kota. Namun cita-cita tersebut belum trlaksana, sudah pindah ke Jemaat Jember. Kelestarian kelompok Kristen Penanggal amat disayangkan, karena tidak didukung oleh alam cipatan-Nya, yang pada tahun 1976 Desa Penanggal terlanda banjir bandang dari letusan Gunung Semeru yang memporakpandakan kawasan desa tersebut dan sekitarnya. Maka mereka bersama warga seiman lainnya yaitu dari Sumberwulu, Kajarkuning, dan Pronojiwo mengikuti transmigrasi ke Domggala Sulawi Selatan meninggalkan desanya (bedhol desa) yang berangkat pada tanggal 17 November 1977 dipimpin oleh tua-tua Simin Karsa Nawi.
Beberapa bulan kemudian ada satu keluarga yang pulang yaitu tua-tua Suwito, tetapi tidak lagi menetap di Desa Penanggal, langsung pindah ke Desa Sumberwuluh. Sehingga di Desa Penanggal tidak satupun umat Kristiani yang tinggal.
Penetua yang pernah membina Kelompok Penanggal mulai tahun 1964-1977 di antaranya: Simin Karsa Nawi, Sumeh, Suharto, Sumini, mbah Kus, Maligi dan yang terakhir penatua Kamiran.
Kelompok Penanggal yang pernah mengalami pertumbuhan selama 13 tahun pada akhirnya hanya menjadi kenangan bagi warga Jemaat Lumajang.
Kelompok Kertowono
Kertowono adalah kawasan Pekebunan Teh yang letaknya berada di Kecamatan Gucialit. Perkebunan ini awalnya dibuka untuk tananaman kina dan kopi pada tahun 1810, yang kemudian pada tahun 1912 menjadi Perkebunan Teh Kertowono. Jarak dari gereja induk (GKJW Jemaat Lumajang) sekitar 15 km ke arah Barat. Kawasan ini berada pada ketinggian 600 m di atas permukaan air laut. Di pagi dan siang hari hawanya terasa sejuk dan segar, namun pada malam hari keadaan udaranya terasa dingin.
Adanya kelompok Kristen di kawasan ini, bermula dari kedatangan orang-orang Kristen yang bekerja sebagai karyawan di Perkebunan Teh Kertowno sejak tahun 1974 di antaranya Sugeng Setiyono, B.Sc., Tukiran dan P.M. Taka. Kemudian pada tahun 1975 berdatangan lagi beberapa karyawan lainnya, yaitu Yosep Adi Wasito, Rujito, Riyadi, Susilo, Winoto dan Siswoyo, sehingga warga Kristen di kawasan Perkebunan Teh Kertowono berjumlah 9 kepala keluarga. Atas inisiatif Sugeng Setiyono, B.Sc. mereka dihimpun menjadi persekutuan kelompok dalam wadah GKJW Jemaat Lumajang, dan yang ditunjuk sebagai ketuanya yaitu Sugeng Setiyono, B.Sc. Setelah bergabung dengan GKJW Jemaat Lumajang, ibadah mereka tiap hari Minggu tertentu dilayani Pdt. R. Setyohardjo dan GI Y.C. Pattipeiluhu bertempat di rumah ketuanya. Tempat ibadahnya secara kontinu sejak tahun 1974-1978 bertempat di rumah Sugeng Setiyono, B.Sc., tahun 1978-1981 bertempat di rumah P.M.Taka, dan selanjutnya menempati rumah M. Saragih S dari tahun 1981-1985. Kemudian mulai tahun 1985 warga menghendaki agar ibadah Minggu ditempatkan di rumah warga secara bergantian, dengan tujuan selain ibadah warga dapat beranjangsana ke rumah warga yang ketempatan.
Mulai awal April tahun 2001 pelayanan ibadah yang semula setiap bulan 1 kali dilayani Jemaat Lumajang, diubah menjadi 2 kali sebulan atas permintaan mereka yang jadwalnya diatur oleh PHMJ, dan pada waktu sakramen Perjamuan Kudus diharapkan kepada mereka agar bergabung dengan Jemaat Lumajang. Warganya 7 KK 28 jiwa.
Warga Marenca
Selain pepanthan dan kelompok ada pula bagian lain yang dinamakan“Warga Marenca”, yaitu warga yang tidak bergabung dalam pepanthan dan rayon jemaat induk. Biasanya penamaan warga marenca ini didasarkan pada tempat yang jauh dari warga yang lain dan jumlah warganya sedikit. Warga marenca secara mudah dapat diartikan warga gereja yang “terberai-berai jauh dari kawasan seiman yang lain.”
Warga marenca GKJW Jemaat Lumajang tersebar di beberapa desa, yaitu di Desa: Wonorejo, Boreng, Tukum, Sumbersuko, Curah Jero, Tempeh dan Pulo serta di Jabon Pasrujambe.